“Setiap kali perkawinanku menyakitiku, aku selalu mengutukmu!” bibir tipis itu hanya bergerak sedikit dalam getaran saat kata-kata sedingin salju itu keluar.
“Seberarti itukah?”sahutku dalam ketundukan yang dalam.
Malam, purnama melentera, seperti pengantin wanita yang dipaksa kawin, bertiara kemilau, bertirai kain putih, indah namun dingin. Dalam kesuraman mendung yang dicercah cahaya.
“Setelah hari itu kau lalui, siapa paling dulu kau cari?”
“Kau!”
“Betapa beruntungnya aku.”
“Mengapa kau tertawa? Kau mensyukuri keadaanku?”
Tatapan itu membuat matanya hampir tak terlihat, setajam mata elang padang pasir, setipis pedang raja nanking, seputih salju mongolia, hangat seperti pasir gunung sinai, hanya saja, kehangatan itu sudah tak bisa dirasai lagi.
“Tentu aku senang, semua bebanmu terangkat. Dan kau mencariku, meski, seperti ini. Aku hanya tak menyangka aku masih ada di hatimu.” Senyumku belum hilang lagi.
“Masih ada?”
“Ya. Kukira aku hanyalah angin pagi bulan november yang menghembus rambutmu hingga perlu kau rapikan kembali.” Sahutku dengan kebodohan keledai.
“Mungkin, tapi angin itu membuat beku telaga api yang hendak kuterjuni.”
“Ah! Kau melebihkan Rey.”
“Hanya kamu yang memanggilku dengan nama itu.”
“Kau seperti terlalu jauh untuk diraih waktu itu.”
“Itu karena aku menggelayutimu, aku tak perlu diraih.”
“Ah! Kau sering tak ada untukku.”
“Kau bodoh! Bukankah saat itu aku masih berada di ujung sebuah hubungan yang menerbangkanku hilang tak tentu arah?”
“Kau berusaha meraihnya Rey, bukan menggelayutiku!” hatiku tiba-tiba mengeras, udara membawa waktuku pada hari-hari aku menangisinya.
“Naif! Aku sedang memelukmu, berusaha meraih sisa-sisa keping hati, agar bisa kuberikan padamu.”
“Aku tak tahu, aku tak merasakan kehadiranmu.”
“Bohong! Kau tak pernah mau menungguku.”
“Rey! Hari-hariku adalah engkau, tidak pernah aku secinta itu, seberharap itu, kau membuatku larut, hilang, melupakan semua yang harus kulakukan. Kau yang tak tahu! Aku meninggalkan semua ujian waktu itu, karena kau mengurungku! Tak bisa melihat, karena dihadapanku hanya ada keindahanmu! Masa depan menjadi terlalu buram untuk menyemangatiku.”
“Kau melebihkan. Kurasa ada keindahan lain waktu itu, kan?” Rey tersenyum sinis, “ kecantikan pesisir barito itu, bukankah selalu menemanimu?”
“Rey!” lidahku tiba-tiba mengeras. Diam.
“Tahukah kau? Saat itu, aku sudah berhasil mengumpulkan yang tersisa dari hatiku, menyelimutinya dengan harapan. Aku berlari mencarimu, mengharapmu, kucari kau dengan senyum. Rasanya seperti bulan februari, meski saat itu salju belum cair lagi. Tahukah kau? Waktu itu kau segalanya!”
Aku diam, tautan nada tinggi itu menghunjam makin dalam.
“Saat itu kau dengan dia! Aku naif, silau dengan harapanku padamu, aku masih merasa bahwa saat itu hanya ada kau.”
Kurasakan gemuruh dada Rey mendesakku.
“Lalu kau menyadarkanku, saat kau meraih tangannya, mendiamkanku. Ingat kau? Kau memilihnya!”
Hampir tak ada yang bisa kukatakan, “saat itu aku marah! Merasa tak kau indahkan, aku hanya tak ingin terlihat lemah, putus asa, merasa tak kau hiraukan, aku hanya ingin sedikit membangung kepercayaan pada diri, bahwa aku tak hanya pecundang yang kehilangan harap!”
“Ah kau! Kau hanya tak mau menuggu.”
“Aku menunggumu Rey! Selalu menunggu! Kau tak tahu, aku sudah hampir menjadi tangga di depan rumah itu. Hanya dengan memandangi jendela kamarmu, aku sudah merasa dicinta. Tapi kau tak datang Rey!”
“Harusnya kau menunggu lebih lama!”
Diam, malam merebut pertengkaran itu, purnama masih melentera.
“Aku hanya merasa tak berarti Rey. Seperti sebutir dari sedataran pasir sinai, hilangku tak kan dicari. Seperti daun-daun dihembus angin danau nasr, larut dalam arus aswan, busuk, tak ada yang tahu.”
Rey mendekat, tangan pucatnya mengusap pelipisku, terasa seperti hembusan, dingin.
“Kau adalah arus yang membawa lotus merah ke muara Nil, energi aswan yang melimpah, menerangi mediterania hingga syams. Aku hidup dalam hangatmu, dalam kenanganmu. Mengingatmu meringankan perihku, kau tahu itu?”
“Bukankah kau selalu mengutukku rey?”
“Mengapa kau tak menggapaiku?”
“Bukankan sudah kubawakan lotus-lotus merah itu untukmu, 10 jam menuju perbatasan sudan Rey, 10 jam lagi untuk kembali. lalu aku terbang ke amman, menggelandang di semenanjung, agar bisa memeluk kakimu, meminta kau bersamaku.”
“Bukankah kuminta kau membawa serta orang yg melahirkanmu? untuk memintaku pada ibuku?”
Aku beku, keinginanku untuk menjawab Rey hilang, seperti bukan lagi saat untuk merangkai kata.