Yang Tertinggal

November 20, 2010 - Leave a Response

“Setiap kali perkawinanku menyakitiku, aku selalu mengutukmu!” bibir tipis itu hanya bergerak sedikit dalam getaran saat kata-kata sedingin salju itu keluar.

“Seberarti itukah?”sahutku dalam ketundukan yang dalam.

Malam, purnama melentera, seperti pengantin wanita yang dipaksa kawin, bertiara kemilau, bertirai kain putih, indah namun dingin. Dalam kesuraman mendung yang dicercah cahaya.

“Setelah hari itu kau lalui, siapa paling dulu kau cari?”

“Kau!”

“Betapa beruntungnya aku.”

“Mengapa kau tertawa? Kau mensyukuri keadaanku?”

Tatapan itu membuat matanya hampir tak terlihat, setajam mata elang padang pasir, setipis pedang raja nanking, seputih salju mongolia, hangat seperti pasir gunung sinai, hanya saja, kehangatan itu sudah tak bisa dirasai lagi.

“Tentu aku senang, semua bebanmu terangkat. Dan kau mencariku, meski, seperti ini. Aku hanya tak menyangka aku masih ada di hatimu.” Senyumku belum hilang lagi.

“Masih ada?”

“Ya. Kukira aku hanyalah angin pagi bulan november yang menghembus rambutmu hingga perlu kau rapikan kembali.” Sahutku dengan kebodohan keledai.

“Mungkin, tapi angin itu membuat beku telaga api yang hendak kuterjuni.”

“Ah! Kau melebihkan Rey.”

“Hanya kamu yang memanggilku dengan nama itu.”

“Kau seperti terlalu jauh untuk diraih waktu itu.”

“Itu karena aku menggelayutimu, aku tak perlu diraih.”

“Ah! Kau sering tak ada untukku.”

“Kau bodoh! Bukankah saat itu aku masih berada di ujung sebuah hubungan yang menerbangkanku hilang tak tentu arah?”

“Kau berusaha meraihnya Rey, bukan menggelayutiku!” hatiku tiba-tiba mengeras, udara membawa waktuku pada hari-hari aku menangisinya.

“Naif! Aku sedang memelukmu, berusaha meraih sisa-sisa keping hati, agar bisa kuberikan padamu.”

“Aku tak tahu, aku tak merasakan kehadiranmu.”

“Bohong! Kau tak pernah mau menungguku.”

“Rey! Hari-hariku adalah engkau, tidak pernah aku secinta itu, seberharap itu, kau membuatku larut, hilang, melupakan semua yang harus kulakukan. Kau yang tak tahu! Aku meninggalkan semua ujian waktu itu, karena kau mengurungku! Tak bisa melihat, karena dihadapanku hanya ada keindahanmu! Masa depan menjadi terlalu buram untuk menyemangatiku.”

“Kau melebihkan. Kurasa ada keindahan lain waktu itu, kan?” Rey tersenyum sinis, “ kecantikan pesisir barito itu, bukankah selalu menemanimu?”

“Rey!” lidahku tiba-tiba mengeras. Diam.

“Tahukah kau? Saat itu, aku sudah berhasil mengumpulkan yang tersisa dari hatiku, menyelimutinya dengan harapan. Aku berlari mencarimu, mengharapmu, kucari kau dengan senyum. Rasanya seperti bulan februari, meski saat itu salju belum cair lagi. Tahukah kau? Waktu itu kau segalanya!”

Aku diam, tautan nada tinggi itu menghunjam makin dalam.

“Saat itu kau dengan dia! Aku naif, silau dengan harapanku padamu, aku masih merasa bahwa saat itu hanya ada kau.”

Kurasakan gemuruh dada Rey mendesakku.

“Lalu kau menyadarkanku, saat kau meraih tangannya, mendiamkanku. Ingat kau? Kau memilihnya!”

Hampir tak ada yang bisa kukatakan, “saat itu aku marah! Merasa tak kau indahkan, aku hanya tak ingin terlihat lemah, putus asa, merasa tak kau hiraukan, aku hanya ingin sedikit membangung kepercayaan pada diri, bahwa aku tak hanya pecundang yang kehilangan harap!”

“Ah kau! Kau hanya tak mau menuggu.”

“Aku menunggumu Rey! Selalu menunggu! Kau tak tahu, aku sudah hampir menjadi tangga di depan rumah itu. Hanya dengan memandangi jendela kamarmu, aku sudah merasa dicinta. Tapi kau tak datang Rey!”

“Harusnya kau menunggu lebih lama!”

Diam, malam merebut pertengkaran itu, purnama masih melentera.

“Aku hanya merasa tak berarti Rey. Seperti sebutir dari sedataran pasir sinai, hilangku tak kan dicari. Seperti daun-daun dihembus angin danau nasr, larut dalam arus aswan, busuk, tak ada yang tahu.”

Rey mendekat, tangan pucatnya mengusap pelipisku, terasa seperti hembusan, dingin.

“Kau adalah arus yang membawa lotus merah ke muara Nil, energi aswan yang melimpah, menerangi mediterania hingga syams. Aku hidup dalam hangatmu, dalam kenanganmu. Mengingatmu meringankan perihku, kau tahu itu?”

“Bukankah kau selalu mengutukku rey?”

“Mengapa kau tak menggapaiku?”

“Bukankan sudah kubawakan lotus-lotus merah itu untukmu, 10 jam menuju perbatasan sudan Rey, 10 jam lagi untuk kembali. lalu aku terbang ke amman, menggelandang di semenanjung, agar bisa memeluk kakimu, meminta kau bersamaku.”

“Bukankah kuminta kau membawa serta orang yg melahirkanmu? untuk memintaku pada ibuku?”

Aku beku, keinginanku untuk menjawab Rey hilang, seperti bukan lagi saat untuk merangkai kata.

Hujan Hari ini

November 20, 2010 - Leave a Response

Hari ini hujan. Kudengar sudah sembilan bulan ini hujan lebih sering turun daripada tidak. Suara takbir masih terdengar tiap usai shalat berjamaah. Kalimat itu untunglah masih menghunjam dalam sanubariku. Sanubari malas yang takut jatuh dalam kubangan putus asa.

Hujan sembilan bulan itu menaikkan bea produksi sebuah perusahaan besar batubara sebesar 22% sehingga keuntungan bersih tahun itu hanya 536 juta dolar Amerika? Ah, mungkin koran itu salah tulis, mana mungkin sebesar itu keuntungannya. Berapa persen pemerintah daerah mendapat bagian dari keuntungan itu? Sampai sampai tak mampu memperbaiki jalan-jalan raya Balangan? Aneh, pasti penulis berita itu membual

Hujan sedikit bertambah deras. Semalam awan hitam bergulung-gulung. Begitu takut bila terjadi puting beliung. Sudah kutandai beberapa bagian dari rumahku, dimana aku akan mengikat diri bila itu terjadi. Lalu kembali aku berfikir, bila memang kuat aku mencengkram, terbebaskah aku dari hantaman kayu-kayu beterbangan atau kaca dibawa gelombang kencang angin berputar.

Lalu aku kembali ingat mati. Bagaimanapun lari aku menghindar ia akan slalu menghampiri. Bukankah tujuan hidup ini berjalan kembali ke dalam bumi? Masalahnya bukan itu ketakutanku. Sejauh apa nasibku didalam bumi itu? Bisakah keadaan dalam bumi itu disebut “nasib”? Apakah hasil usaha kita berbuat baik tunduk pada perintah disebut nasib? Ataukah itu “kadar”?

Lalu hujan kembali bertambah lebat sedikit. Tidak lebat seperti kemarin, tumpah ruah, deras, sebentar lalu berlalu.

Rasa yang ingin kutitipkan

November 17, 2010 - Leave a Response

Langit lepas petang hari ini begitu terang, padahal matari sudah lama menyinari bagian bumi yang lain. Sebenarnya ia selalu indah, mengingat melukisi langit bukanlah hal mudah. Awan yang biasa menggumpal malam ini membentang, membentuk hamparan setengah kanvas langit bagai pantai dan pasirnya. Ditarik mengerucut hingga langit utara.

Jalan susu, semburat putih dikejauhan menjadi latar gemintang yang tak selalu setia temani bulan.

Sebenarnya apa yang kulihat, tak kan mungkin kembali dapat dilukiskan pada lembaran jejaring biologis dengan fisik sangat lunak dalam kepala. Karena itu aku hanya ingin menitipkan rasa. Rasa yang dapat ditangkap oleh hati. Rasa yang akan menitipkan langit menjadi guratan-guratan yang kuingin kau resapi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.